
Balai Litbang Agama Semarang kembali melakukan terobosan kreatif dalam upaya menguatkan moderasi beragama melalui medium yang dekat dengan masyarakat, yakni komik berbasis tradisi lisan. Karya ini lahir dari hasil penelitian tradisi lisan yang dilakukan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebuah desa yang kaya akan kearifan lokal, nilai kebersamaan, dan warisan budaya lisan yang terjaga turun-temurun.
Komik ini bertolak dari cerita tokoh legendaris Aji Saka, yang hingga kini masih diceritakan dalam tradisi lisan masyarakat Desa Ngadas. Nilai utama yang terkandung dalam kisah tersebut terangkum dalam falsafah “Aja Rebut Bener” sebuah pesan bijak agar manusia tidak saling memaksakan kebenaran versinya sendiri, melainkan mampu menghargai keberbedaan dan menjunjung musyawarah.
Di tengah masyarakat yang plural, pesan “Aja Rebut Bener” mengandung makna mendalam bagi penguatan moderasi beragama. Ia menekankan bahwa kebenaran tidak boleh direbut dengan cara memaksakan kehendak atau mengabaikan pandangan orang lain, melainkan perlu dirawat dalam sikap saling menghargai dan memahami.
Penguatan moderasi beragama memang tak bisa dilepaskan dari akar budaya lokal. Desa Ngadas adalah contoh nyata bagaimana tradisi lisan dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun kerukunan. Melalui cerita turun-temurun, masyarakat belajar untuk menghormati perbedaan, menahan ego, dan mengutamakan harmoni.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pendekatan berbasis tradisi lisan seperti ini menjadi jalan strategis. Ia menegaskan bahwa moderasi beragama tidak sekadar wacana normatif, tetapi sesuatu yang telah hidup dan dipraktikkan dalam keseharian masyarakat sejak lama.