
Keberadaan perpustakaan memiliki peran yang sangat vital dalam mendukung pelaksanaan tugas Analis Kebijakan dan pengembangan di lingkungan Balai Litbang Agama (BLA).
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Balai Litbang Agama Semarang, Moch. Muhaemin, dalam kegiatan visitasi akreditasi perpustakaan BLA Semarang, Selasa (14/10/2025).
Dalam sambutannya, Muhaemin menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan merupakan jantung pengetahuan dan pusat data primer bagi para Analis Kebijakan di lingkungan Balai.
“Perpustakaan sangat mendukung tugas-tugas kami dalam menjalankan fungsi litbang. Ia bukan hanya ruang penyimpanan buku, tetapi pusat pengetahuan yang vital dan strategis,” ujarnya.
Lebih lanjut, Muhaemin menjelaskan bahwa proses akreditasi perpustakaan tidak semata-mata untuk memperoleh pengakuan formal, tetapi menjadi bagian dari komitmen BLA Semarang dalam meningkatkan kualitas layanan publik.
“Bagi kami, akreditasi ini bukan sekadar mengejar status atau formalitas, tetapi wujud komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memastikan kesesuaian dengan standar nasional,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim perpustakaan yang telah bekerja keras menyiapkan seluruh proses akreditasi, mulai dari penyusunan dokumen hingga penataan koleksi dan layanan.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada penanggung jawab perpustakaan dan seluruh tim yang telah bekerja cerdas dan bergotong royong dalam menyiapkan dokumen akreditasi,” pungkas Muhaemin.
Sementara itu, Asesor Akreditasi Perpustakaan, Teguh Purwanto, menyampaikan bahwa keberadaan perpustakaan khusus di lembaga penelitian memiliki peran strategis sebagai pusat pengetahuan sekaligus pendukung utama bagi lembaga induknya.
“Kami berharap perpustakaan BLA Semarang bisa menjadi contoh penerapan standar nasional bagi perpustakaan khusus lainnya. Kalau perpustakaannya bagus, otomatis lembaga induknya akan semakin kuat,” ujarnya.
Teguh juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam penerapan seluruh unsur penilaian, agar hasil akreditasi benar-benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
“Kami menilai dari dua aspek utama, yaitu validitas dan kreativitas. Semua unsur harus diterapkan secara konsisten sesuai dengan komponen yang ada di standar. Prinsip ini berlaku sama di semua perpustakaan khusus,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh asesor memiliki komitmen untuk menjaga objektivitas penilaian dan menegaskan bahwa tidak ada perpustakaan yang memperoleh nilai sempurna di semua komponen.
“Tidak ada nilai sempurna lima di semua komponen. Tapi harapan kami, perpustakaan ini bisa memperoleh hasil yang baik. Yang penting, semua bukti fisik dan data pendukung bisa ditunjukkan sesuai standar,” pungkasnya.