
Perpustakaan dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Tak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, perpustakaan kini perlu bertransformasi menjadi ruang publik yang edukatif, inklusif, dan interaktif agar tetap relevan di era digital.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi antara pustakawan Perpustakaan Balai Litbang Agama (BLA) Semarang dan mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (11/6/2026).
Pustakawan Perpustakaan BLA Semarang, Siska Nur Apriyani, mengatakan rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan menjadi tantangan yang harus dijawab melalui berbagai inovasi layanan dan program kreatif.
Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak cukup hanya menyediakan koleksi buku, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menarik bagi masyarakat. “Berbagai program kreatif dan kolaboratif perlu terus dikembangkan untuk menarik minat generasi muda dan masyarakat umum agar kembali memanfaatkan layanan perpustakaan,” ujarnya.
Siska menjelaskan, diskusi tersebut menjadi ruang bertukar gagasan antara pengelola perpustakaan dan mahasiswa untuk merumuskan strategi pengembangan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Berbagai masukan yang muncul diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus acuan dalam menyusun program perpustakaan ke depan.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Undip, Nassya Ahrimi, menilai promosi masih menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum mengetahui berbagai koleksi dan layanan yang tersedia di perpustakaan.
“Perpustakaan perlu lebih aktif mengenalkan koleksi dan layanannya. Masih banyak orang yang belum tahu bahwa perpustakaan memiliki banyak sumber informasi yang bermanfaat. Jika promosinya dibuat lebih menarik dan mudah dijangkau, minat masyarakat maupun mahasiswa untuk berkunjung juga akan meningkat,” katanya.

Sementara itu, Ordelia Chyla Prameswari menyoroti pemanfaatan media sosial, khususnya TikTok, sebagai sarana promosi yang efektif untuk menjangkau generasi muda. Ia menilai konten yang kreatif dan mengikuti tren memiliki peluang besar untuk menarik perhatian masyarakat.
“Dengan membuat konten promosi yang mengikuti tren yang sedang hits dan dipublikasikan melalui TikTok, perpustakaan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat. Saat ini banyak kalangan, terutama Generasi Z, menggunakan TikTok sebagai media pencarian informasi. Ditambah lagi, algoritma TikTok sangat menguntungkan apabila konten yang dibuat memiliki potensi viral,” jelasnya.
Pendapat serupa disampaikan Chiquita Dzakia Surya Alfa Rossa. Ia menekankan pentingnya optimalisasi media sosial yang dibarengi dengan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Menurut saya, cara menarik pemustaka adalah dengan memanfaatkan media sosial secara optimal, meningkatkan promosi, serta membuat konten-konten yang menarik dan mengikuti tren. Selain itu, perpustakaan juga perlu mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat sehingga keberadaan perpustakaan tidak hanya dikenal sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi dan aktivitas publik,” tandasnya.
Melalui diskusi tersebut, pustakawan dan mahasiswa sepakat bahwa inovasi layanan, promosi digital, serta penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakat menjadi langkah penting untuk meningkatkan minat kunjungan.
Perpustakaan diharapkan dapat terus berkembang sebagai pusat literasi sekaligus ruang kolaborasi yang dekat dengan kebutuhan publik.***
Sumber: https://www.suaramerdeka.com/pendidikan/0417243795/perpustakaan-tak-lagi-sekadar-tempat-buku-harus-jadi-ruang-publik-interaktif?page=2